Main Menu

Sejarah Perjanjian Linggarjati

(Suasana jamuan dalam perundingan Linggarjati. foto: wikipedia)

Salah satu perjanjian antara Indonesia dan Belanda dalam sejarah kemerdekaan adalah Perundingan Linggarjati (biasa juga disebut dengan Linggajati). Perjanjian Linggarjati diselenggarakan di Linggarjati, Jawa Barat. Kemudian ditandatangani di Istana Merdeka Jakarta, berkenaan dengan status kemerdekaan Republik Indonesia. Perjanjian Linggarjati adalah sebagai langkah diplomasi untuk mengatasi konflik bersenjata yang dipicu oleh masuknya tentara sekutu ke RI dan ditumpangi oleh Netherlands-Indies Civiele Administrations (NICA).

Sebelumnya telah digelar serangkaian perundingan di Belanda maupun Jakarta. Akan tetapi, belum ada titik terang antara pihak Indonesia dan Belanda, yakni mengenai status Indonesia sebagai negara yang merdeka.

Akhirnya, pada tanggal 11 hingga 13 November 1946 diselenggarakan pertemuan di Linggarjati, Jawa Barat. Perundingan tersebut menghasilkan keputusan yang diteken hari berikutnya, yakni tanggal 15 November 1946. Kemudian diratifikasi secara resmi di Istana Merdeka Jakarta pada tanggal 25 Maret 1947.

Latar Belakang dan Sejarah Perjanjian Linggarjati

Setelah sekian lama dijajah oleh bangsa-bangsa Eropa, bangsa Indonesia menyatakan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945. Meskipun telah memproklamirkan kemerdekaan, namun Belanda masih mengincar dan ingin berkuasa kembali di Tanah Air. Pasukan Belanda yang tergabung dalam NICA kembali ke Tanah Air setelah Indonesia merdeka. Mereka membonceng pasukan sekutu yang sebelumnya memenangkan perang melawan tentara Jepang. Hal tersebutlah yang melatarbelakangi Perjanjian Linggarjati.

Pertemuan pertama yang dihadiri oleh perwakilan RI dan NICA pada 23 Oktober 1945 di Jakarta gagal mencapai kesepakatan. Kemudian 13 Maret 1946 diselenggarakan pertemuan kedua berlanjut 16-17 Maret 1946 dan menghasilkan naskah rumusan Jakarta.

Rupanya naskah berisikan nota kesepahaman tersebut menjadi fase perundingan selanjutnya. Perwakilan Indonesia dipimpin oleh Soetan Syahrir. Kemudian pihak delegasi Belanda adalah Perdana Menteri Prof. Dr. Ir. W. Schermerhorn.

Hadir sebagai pihak penengah dari Inggris adalah sir Archibald Clark Kerr atau Lord Inverchapel. Perjanjian tersebut disepakati bersama melalui rumusan naskah persetujuan pendahuluan yang ditandatangani pada 30 Maret 1946 oleh Soetan Sjahrir dan Hubertus van Mook.

Dalam perundingan tersebut, Pemerintah kerajaan Belanda tidak menyetujui persoalan status kenegaraan, kemerdekaan, dan wilayah Indonesia. Sehingga menawarkan pilihan Indonesia supaya menjadi negara bawahan persemakmuran Belanda. Perwakilan delegasi Indonesia tentu saja menolak mentah-mentah hal tersebut yang sejak awal menginginkan negara dengan kedaulatan penuh.

Selanjutnya perundingan kembali digelar dengan tujuan mengurai permasalahan. Kedua belah pihak menyepakati mengenai pengakuan Indonesia dari pihak Belanda. Hingga pada akhirnya sejarah perjanjian Linggarjati ini menemui kesepakatan bersama.

Tokoh Delegasi

Terdapat beberapa tokoh yang mewakili masing-masing pihak dalam sejarah perjanjian Linggarjati. Delegasi Indonesia diwakili oleh Soetan Syahrir, A.K. Gnai, Soesanto Tirtoprodjo, Mohammad Roem, Ali Boediardjo, dan Amir Sjarifuddin. Sementara dari delegasi Belanda hadir Prof. Dr. W. Schermerhorn dan Hubertus van Mook. Kemudiaan sebagai penengah terdapat delegasi Inggris, Lord Killearn dan Lord Inverchapel.

Isi Perjanjian Linggarjati

Rangkaian pertemuan yang menghasilkan perjanjian Linggarjati berlangsung 3 hari terhitung sejak 13 hingga 15 November 1946. Perjanjian tersebut disepakati bersama dalam rapat tertutup pukul 13.30 yang berisikan beberapa hal. Pertama Belanda mengakui secara de facto RI dengan wilayah kekuasaan mencakup Jawa, Madura, dan Sumatera. Kedua, Belanda wajib meninggalkan wilayah de facto selambat-lambatnya 1 Januari 1949. Ketiga RI dan Belanda hendak bekerja sama menciptakan Republik Indonesia Serikat (RIS), dimana salah satu negara bagian adalah RI.

Kemudian isi perjanjian yang terakhir menyatakan jika RIS dan Belanda akan membentuk Uni Indonesia-Belanda dengan ketua Ratu Belanda.

Namun demikian masih terdapat polemik internal di kalangan Indonesia dan Belanda. Di kalangan KNIP atau Komite Nasional Indonesia Pusat, polemik cukup hebat sehingga perjanjian tersebut baru terlaksana di Istana Merdeka, Jakarta pada 25 Maret 1947. Sementara itu Belanda kemudian mengingkari perjanjian Linggarjati dan pada 21 Juli 1947 melancarkan agresi militer pertama.

Dampak Perjanjian Linggarjati

Sejarah perjanjian Linggarjati pada waktu itu memberikan dampak positif maupun negatif bagi Indonesia. Dampak positifnya berupa kemerdekaan Indonesia. Lalu adanya pengakuan dari Belanda pada perjanjian tersebut, membuat citra Indonesia semakin kuat di mata dunia.

Selain itu, antara Indonesia dan Belanda sudah tidak ada konflik lagi. Pasalnya Belanda telah mengakui RI berkuasa secara de facto atas Pulau Jawa, Madura, dan Sumatera.

Namun di sisi lain perjanjian tersebut memiliki dampak negatif, karena wilayah kekuasaan Indonesia menyempit. Lalu Belanda mempunyai banyak waktu untuk mempersiapkan agresi militer. Di dalam negeri, perjanjian tersebut banyak yang menentangnya, seperti KNIP mengambil langkah tegas untuk menarik dukungan.

Hasil Perjanjian Linggarjati tersebut banyak menimbulkan gejolak politik internal Republik Indonesia yang terlihat dari penolakan Partai Masyumi, Partai Rakyat Jelata, dan PNI.

Lebih parahnya lagi, di lain pihak Belanda menafsirkan hal lain atas kesepakatan perjanjian sehingga masih saja terjadi berbagai insiden.

Perjanjian Linggarjati hanya seumur jagung, karena tanggal 20 Juli 1947 van Mook menyatakan Belanda tidak terikat lagi kesepakatan tersebut.

Dengan demikian perjanjian Linggarjati telah berakhir. Efeknya antara Indonesia dan Belanda kembali terjadi konflik yang kian memanas puncaknya ditandai dengan Agresi Militer Belanda pertama di wilayah Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sumatera. Hingga akhirnya kedua belah pihak menyelesaikan konflik melalui Perjanjian Renville.






Comments are Closed

Translate »
You cannot copy content of this page