Main Menu

Amir Syarifuddin: Kiprah Sebelum Kemerdekaan

Amir Syarifuddin Harahap lahir di Medan pada tanggal 27 Mei 1907 dan merupakan mantan Perdana Menteri Indonesia. Ia mendapatkan hukuman eksekusi mati karena telah terlibat pada peristiwa Madiun tahun 1948.

Kebanyakan orang hanya memahami bahwa Amir adalah seorang komunis. Tetapi sebenarnya ia adalah seorang Kristen yang sangat taat. Ini mungkin terdengar aneh dan sangat mustahil. Namun semua ini adalah fakta yang menimbulkan kontroversi pada masa Orde Baru. Pasalnya menganggap seseorang sebagai komunis dengan agama merupakan hal yang menjadi bertentangan.

Kehidupan Amir Syarifuddin Harahap

Amir Syarifuddin merupakan alumni mahasiswa salah satu perguruan Tinggi Belanda di tahun 1921 hingga 1927. Setelah menyelesaikan tingkat dua studinya, Amir mulai terjun menjadi anggota Perhimpunan Indonesia. Melalui organisasi tersebut Amir mendapatkan gemblengan keras dari Semaun yang merupakan pimpinan PKI terbuang di negeri Belanda.

Dengan pimpinan Semaun inilah membuat Amir dan beberapa kader Perhimpunan Indonesia mendapatkan pendidikan Marxisme-Leninisme. Saat mendengar adanya pemberontakan PKI di tanah air yang dampaknya juga sampai ke mahasiswa yang berada di Belanda, iapun tidak menyelesaikan studinya dan ingin segera kembali ke tanah Air. Semaun memerintah kepada Amir agar ia membantu sisa-sisa aktivis partai yang luput dari penangkapan. Setelah itu Amir Syarifudin Harahap melanjutkan studinya ke Recht Hogeschool.

Ia memiliki seorang abang sepupu bernama Gunung Mulia yang merupakan anggota Volksraad. Gunung Mulia mengajak Amir supaya tinggal di rumahnya. Tetapi Amir lebih suka tinggal di asrama mahasiswa, mengingat bahwa tempat tersebut merupakan kawasan berkumpulnya aktivis pemuda, pelajar, dan mahasiswa. Dengan begitu rumah tersebut menjadi tempat pencetusan Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928.

Terkenal Taat Beragama

Awalnya sosok Amir Syarifuddin Harahap sangat taat dengan agama Islam. Lama-kelamaan ia mulai mempelajari agama Kristen dan bersahabat dengan Ferdinand Tampubolon. Keduanya sering membicarakan tentang Kekristenan. Setelah melalui proses yang cukup panjang ada seorang kristen yaitu Pendeta Peter Tambunan membaptis Amir Syarifuddin.

Karena sudah berpindah agama menjadi Kristen akhirnya ia mulai mendalami agama tersebut dan sangat taat dengan agama barunya.

Amir Syarifuddin dan Komunisme

Sosok Amir Syarifuddin Harahap mengenal komunisme sebagai ilmu yang bersifat lahiriah dan mengajarkan manusia tentang berbagai hal. Tentunya manusia harus bisa menganalisa dan menyelesaikan persoalan pokok manusia di seluruh dunia. Baginya komunisme mencita-citakan kehidupan masyarakat yang sama rata dan tidak ada penghisapan dan penindasan.

Ia adalah sosok yang aktif dalam berbagai macam organisasi politik. Bahkan ia juga aktif dalam dunia pers. Tulisannya sering termuat dalam surat kabar dan majalah. Hingga akhirnya ada satu artikel berjudul de Vere Vlaamsche Leeuw yang membuatnya ditangkap polisi kolonial. Artikel tersebut berisi sebuah kritikan tajam yang tertuju pada pemerintah kolonial. Hal tersebut membuatnya mendekam selama satu setengah tahun dalam penjara.

Partai Gerindo dan PKI Ilegal

Pada tahun 1935 Amir bebas dari penjara. Tahun ini Musso datang ke Surabaya untuk membentuk kembali PKI, mengingat bahwa pemerintah kolonial menganggap PKI sebagai partai terlarang, sehingga dibentuklah PKI ilegal dan Amir menjadi salah seorang tokohnya.

Kemudian pada tanggal 24 Mei 1937 Amir Syarifuddin Harahap bersama dengan pemuda radikal mendirikan Partai Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo). Partai tersebut nantinya akan berkembang pesat menjadi sebuah partai nasionalis sayap kiri.

Di partai baru itu Amir terpilih sebagai Ketua Bagian Propaganda. Banyak anak muda yang terlibat dalam partai tersebut. Perjuangan untuk meraih kemerdekaan Indonesia sangat bergantung pada kekuatan anti fasisme, melawan fasisme serta perkembangan situasi internasional.

Saat itu Amir masih bergabung dalam Partai Gerindo. Tujuan utama dari partai tersebut adalah menjadikan diri sebagai kekuatan yang mampu menekan Belanda. Sehingga bisa memajukan upaya kemerdekaan Indonesia, tentunya di bawah paham komunis.

Pada tahun 1940 Amir bekerja sama dengan Pemerintah Hindia Belanda untuk melawan Jepang. Atas pekerjaannya ini Amir Syarifuddin Harahap mendapatkan uang sebesar 25.000 Gulden dari Charles van de Plas dan digunakan oleh Amir dan kawan-kawannya untuk membetuk Gerakan Anti Fasis (GERAF). Kerjasama menghadapi fasisme Jepang ini rupanya tidak berjalan lama mengingat Pemerintah Hindia Belanda sudah menyerah kepada Jepang pada 8 Maret 1942. Kini yang akan melawan Jepang adalah GERAF yang dipimpin oleh Amir bersama kawan-kawan PKI ilegal.

GERAF mulai bekerja secara sembunyi sembunyi. Mereka tersebar ke berbagai daerah Pulau jawa terutama Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, dan Cirebon. GERAF mulai memasuki organisasi atau badan-badan di kawasan tersebut. Tujuan utamanya adalah memberikan pendidikan politik pada rakyat melalui selebaran secara rahasia ke pusat keramaian. Selain itu juga ada pendidikan kader anti fasis pada beberapa daerah. Salah satunya adalah Gedung Menteng 31 yang menentukan proses persiapan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.

Atas dasar tersebut Amir Syarifuddin Harahap beserta 300 orang lainnya ditangkap atas tuduhan melakukan perlawanan kepada Jepang. Semua aktivis anti fasis mengalami perlakukan kejam di penjara Jepang.



« (Previous News)



Comments are Closed

Translate »
You cannot copy content of this page