Main Menu

Ada apa?

[Koran Kedaulatan Rakjat 22 April 1947]

DELEGASI Indonesia oentoek menghadiri sidang parlemen Indonesia Timoer tidak djadi berangkat ke Makassar. Sebabnja jalah bahwa seorang anggauta delegasi – Mr. Latuharhary – tidak diizinkan Belanda oentoek toeroet. Alasan Belanda melarang Mr. Latuharhary toeroet serta jalah karena kedoedoekan Mr. Latuharhary bersangkoet paoet dengan daerah jang akan dikoendjoengi itoe.

Tindakan Belanda ini soenggoeh sangat mengherankan.

Belanda sering mengemoekakan bahwa bangsa Indonesia masih sadja bersifat tjoeriga terhadap Belanda, soenggoehpoen Linggadjati soedah ditanda tangani.

Mereka melihat semoet diseberang laoetan, sedang gadjah dikelopak mata tidak tampak.

Dengan tindakan itoe Belanda menoendjoekkan ketjoerigaan mereka terhadap Repoeblik. Disamping itoe, roepanja mereka takoet, kalau2 Mr. Latuharhary nanti akan mempengaroehi ra’jat sana, sehingga dapat menjoekarkan kedoedoekan Belanda. Sebagai alasan dikatakan bahwa Mr. Latuharhary ada sangkoet paoetnja dengan daerah jang akan dikoendjoengi. Alasan Belanda ini koerang djelas. Moengkin jang dimaksoedkan, karena Mr. Latuharhary adalah Goebernoer Maloekoe.

Kalau memang Indonesia Timoer itoe berdiri atas kehendak rajat Soelawesi, Maloekoe dan Soenda Ketjil; kalau memang presiden Soekawati ditaati ra’jat, kalau memang parlemen Indonesia Timoer dibentoek atas pilihan ra’jat dengan djalan demokrasi toelen, apa jang akan dikoeatirkan datangnja Mr. Latuharhary kesana.

Seriboe orang Latuharhary tidak akan berdaja jika 12 djoeta rajat Indonesia disebelah timoer itoe mengingini hendak berdiri sendiri dibawah pemerintahnja jang ada sekarang itoe.

Djadi njata bahwa disana ada apa2 jang tidak beres. Masih banjak jang tersemboenji.

Kita teringat lagi, waktoe para wartawan dalam negeri dioesir dari Bali karena mereka membawa majalah2 dari Djakarta. Majalah jang keloearnja tidak terlarang.

Perloe poela diketahoei bahwa maksoed hendak pergi ke Makassar itoe boekanlah permintaan pemerintah Indonesia, tetapi oentoek memenoehi permohonan ra’jat sana, memenoehi permintaan ketoea Badan Perwakilan ra’jat sana, Mr. Tadjoedin Noor.

Apakan alasan penolakan jg. sebenarnja berdasar atas keterangan bahwa Mr. Tadjoedin Noor tidak berhak mengoendang delegasi Repoeblik, djika tidak dengan persetoedjoean Dr. v. Mook ?

Tidak pernah orang2 Belanda jang resmi atau tidak resmi jg ingin berkoendjoeng kedaerah Repoeblik, ditjoerigai atau mendapat halangan.

Orang2 asing, teroetama orang2 Belanda serta para wartawannja dapat dengan moedah keloear masoek daerah Repoeblik.

Kita pertjaja, djika ada permintaan dari Dr. v. Mook atau semoea anggauta delegasi Belanda oentoek berkoendjoeng ke Jogjakarta, pemerintah Indonesia akan menjamboet kedatangan pembesar2 Belanda itoe dengan segala senang hati. Biar Dr. Beel (P. M. Belanda) dan Mr. Jonkman (Menteri Daerah Seberang) akan berkoendjoeng ke Jogja atau daerah Repoeblik lainnja, tidak akan ditolak oleh pemerintah Indonesia.

Sikap Belanda sematjam ini soenggoeh disesalkan.






Comments are Closed

Translate »
You cannot copy content of this page